Malaikat Sahaiel : Panggilan Di Tengah Kabut Langit Sabtu, 06 September 2025 , terasa berat, membebani bahu seperti kegagalan yang beberapa hari belakangan tak mampu kusingkirkan dari pikiran. Seleksi kelayakan yang gagal itu meninggalkan bekas pedih, membuatku butuh jeda, sebuah ruang hening untuk berkontemplasi, mengevaluasi setiap langkah dan kesalahan. Untuk menenangkan gejolak batin, kuputuskan mendaki gunung kecil di dekat rumah. Disclaimer ini perlu: sejatinya, kisah ini terjadi sebulan lalu, di kota lamaku, sebelum aku benar-benar pindah. Dalam perjalanan menuju kaki bukit, aku mampir sebentar ke warung langganan. Kehangatan susu murni dan aroma manis pisang goreng adalah pelipur lara sempurna. Namun, alam tampaknya memiliki rencana lain. Tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya, diiringi kabut tebal yang perlahan menelan pandangan. Suhu mendadak turun drastis, menusuk kulit, dan memicu desakan alamiah. Aku harus segera ke kamar kecil. Letaknya tak jauh dari s...
Malaikat Orphaniel : Sentuhan Penyembuhan Jumat, 05 September 2025. Kami memutuskan berjalan-jalan ke Bukanagara, Subang , mencari ketenangan di antara hamparan hijau perbukitan. Namun, di tengah udara segar yang seharusnya membawa kedamaian, hati saya terasa berat. Saat kami duduk di bawah naungan pohon rindang, istri saya mulai bercerita. Suaranya pelan, matanya menyimpan awan mendung yang tak kunjung pergi. Ia mengakui, sejak kontak tak terduga dari masa lalunya seorang pria bernama Abdillah, hidupnya terasa terganggu. Ada ketakutan yang kembali menyergap dan gairah hidup yang seolah menghilang, terhisap oleh ingatan lama. Mendengar pengakuan itu, hati saya ikut sakit. Bukan karena cemburu, melainkan karena melihat ia kembali terperosok ke dalam lubang emosi yang seharusnya sudah ia tinggalkan. Rasa sedih yang ia rasakan turut menjadi beban di pundak saya. ( Panggilan di Hening ) Dalam kepedihan itu, saya memejamkan mata dan berdoa. Doa yang keluar dari hati terdalam, ...