Malaikat Sitael : Bisikan Angin Penenang
Malam telah berlalu, meninggalkan kekacauan di pagi Jumat, 5 September 2025. Hujan badai semalam ternyata meninggalkan jejak; atap rumahku bocor. Air menetes tak henti, menciptakan genangan di lantai. Awalnya, rasa marah merayapi. Aku menyalahkan diri karena dulu tak teliti memilih lokasi rumah. Tetapi, nasi telah menjadi bubur. Kini, hanya rencana memanggil tukang yang bisa kulakukan.
Aku duduk termangu di ruang tamu, menatap tetesan air yang jatuh, mencoba mencari pelajaran di balik kebocoran ini. Di tengah perenungan itu, saat hatiku terasa sedikit tegang dan kalut, sebuah sensasi lembut datang. Tiba-tiba, terasa hembusan angin semilir yang anehnya hanya berputar di sekitarku, dingin namun menenangkan. Bersamaan dengan hembusan itu, hatiku yang keruh mendadak menjadi sejuk dan tenang.
Di hadapanku, hadir sebuah wujud cahaya. Itulah Malaikat Sta’el, atau lebih dikenal sebagai Sitael.
Beliau datang dari divisi yang sama dengan Malaikat Agung Sandalphon, sebuah penanda bahwa kehadirannya terkait erat dengan doa dan harapan. Malaikat Sitael adalah utusan bagi jiwa-jiwa yang sedang terperangkap dalam ketakutan dan keputusasaan, namun tak pernah berhenti mengingat dan memohon perlindungan kepada Tuhan.
Malaikat Sitael tersenyum. Senyumnya seperti meredakan badai di dalam dada. Ia lantas berbisik, seolah angin yang berembus pelan:
“Sahabatku, ketakutan adalah rasa yang harus selalu ada. Ia adalah penyeimbang dari keberanianmu. Jika kamu mau melihat dari sudut pandang yang berbeda, ketakutan justru mendorongmu untuk beradaptasi, untuk berevolusi menjadi pribadi yang lebih kuat.”
“Ketakutan memang harus diredam, tapi tidak perlu dihilangkan sama sekali. Cukuplah kamu mengakui ketakutan itu secara terbuka; itu sudah meringankan separuh beban jiwamu. Setelah itu, ucapkan kata-kata harapan kepadanya. Ingatlah selalu, bahwa akan selalu ada harapan yang tersembunyi di balik setiap ketakutan dan keputusasaan yang kau rasakan.”
Sambil tersenyum, Malaikat Sitael memberikan sedikit cerita. Ia adalah sosok abadi yang pernah diturunkan pada era Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda, ia menjelma menjadi roh alam yang ditugaskan secara khusus untuk menjaga dan melindungi bahtera Nabi Nuh.
Mendengar itu, aku tersadar. Jika Malaikat yang bertugas meredakan ketakutan pernah menjaga perahu di tengah air bah, maka ketakutan kecilku ini bahkan kebocoran atap rumahku pasti memiliki jalan keluar. Rasa takutku mereda, tergantikan oleh ketenangan yang mendalam, seolah badai dalam hatiku telah usai.
Catatan ini adalah migrasi data dari sosial media saya sebelumnya.
Rimpang.
.png)
Comments
Post a Comment