Skip to main content

Malaikat Sahaiel : Panggilan Di Tengah Kabut

 


Malaikat Sahaiel : Panggilan Di Tengah Kabut

Langit Sabtu, 06 September 2025, terasa berat, membebani bahu seperti kegagalan yang beberapa hari belakangan tak mampu kusingkirkan dari pikiran. Seleksi kelayakan yang gagal itu meninggalkan bekas pedih, membuatku butuh jeda, sebuah ruang hening untuk berkontemplasi, mengevaluasi setiap langkah dan kesalahan. Untuk menenangkan gejolak batin, kuputuskan mendaki gunung kecil di dekat rumah. Disclaimer ini perlu: sejatinya, kisah ini terjadi sebulan lalu, di kota lamaku, sebelum aku benar-benar pindah.

Dalam perjalanan menuju kaki bukit, aku mampir sebentar ke warung langganan. Kehangatan susu murni dan aroma manis pisang goreng adalah pelipur lara sempurna. Namun, alam tampaknya memiliki rencana lain. Tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya, diiringi kabut tebal yang perlahan menelan pandangan. Suhu mendadak turun drastis, menusuk kulit, dan memicu desakan alamiah. Aku harus segera ke kamar kecil. Letaknya tak jauh dari saung tempatku berteduh, tapi anehnya, saat aku melangkah ke sana, angin bertiup kencang, membawa sensasi dingin yang luar biasa, seolah-olah suhu udara turun lagi hingga beberapa derajat.

Aku membuka pintu kamar kecil itu.

Namun, dihadapanku bukanlah bilik sederhana, melainkan pemandangan yang menyentak: Hutan pinus yang rapat dan gelap. Bau pinus segar yang menenangkan langsung menguar, membalutku dalam aroma murni hutan. Terdorong rasa penasaran yang tak terjelaskan, aku melangkah masuk. Hanya beberapa langkah di antara pohon-pohon tinggi, seekor burung kecil yang cantik terbang menghampiriku dan hinggap lembut di pundak. Lalu, seperti isyarat yang tak terlihat, semakin banyak burung turun dari dahan. Mereka terbang berputar-putar di atasku, membentuk sebuah pusaran vortex yang menyerupai puting beliung mini.

Pusaran burung itu menyatu dalam kilatan cahaya lembut, dan dari intinya, munculah sesosok Druid. Namun, entitas ini berbeda. Wibawanya, pancaran cahayanya, terasa lebih halus, lebih terikat pada dimensi spiritual mirip seperti sosok Malaikat kelas bawah yang menjaga keselarasan alam. Di dalam hutan pinus yang sunyi itu, sosok itu memperkenalkan diri dengan suara yang menenangkan namun tegas.

"Aku Malaikat Sahaiel," katanya. "Aku bekerja di Divisi Bencana (Disaster Division)."

Kami berdialog cukup lama, sebuah percakapan yang penuh misteri tentang takdir dan keselamatan. Intinya, Malaikat Sahaiel memberiku sebuah perintah mendesak, sebuah peringatan keselamatan yang harus kupatuhi segera: aku harus meninggalkan kota ini demi keselamatanku. Aku menerima perintah itu dengan kepatuhan penuh. Segera setelah kejadian itu, aku merencanakan dan melaksanakan kepindahanku. Inilah alasanku yang sesungguhnya, mengapa aku sekarang berada di Kota Subang sebuah langkah yang terpaksa kuambil, dipandu oleh bisikan malaikat yang muncul dari balik pintu kamar kecil di tengah kabut gunung.

Ini merupakan bagian dari migrasi data dari sosial media saya yang lain.

Rimpang.

Comments

Popular posts from this blog

Hijau Yang Tidak Sepenuhnya Merdeka

  Malam ini, aku duduk di depan laptop dengan kopi yang sudah dingin di sisi kanan. Layar ini menyorotkan cahaya biru ke wajahku, seakan membekukan setiap kata yang ingin kutulis. Data dari Raddeya kawan lamaku yang baru kembali dari luar negeri masih terbuka lebar. Kami bertemu kemarin di rumahnya di Karawang, dan entah kenapa, obrolan itu terus mengendap di kepalaku. Aku menulis di sini untuk menenangkan dada. Tentang energi terbarukan yang selama ini kita puja sebagai jalan keluar. Katanya: ini tanda kita makin sayang pada bumi. Katanya: ini masa depan yang bersih. Tapi, benar kah? Aku jadi berpikir, energi apa pun, pada akhirnya, selalu bergantung pada cara kita memakainya... dan siapa yang menguasainya. Kalau suatu hari kita berhasil meninggalkan energi fosil, lalu beralih ke air, bukankah itu kelihatan seperti kabar baik? Tapi bayangkan jika sumber air itu dimiliki segelintir kapitalis yang sama. Apa bedanya? Kita hanya memindahkan ranah kapitalisme dari satu ladang ke ladan...

Kronik Air Kehidupan: Jurnal Koneksi di Kaki Slamet

  Kronik Air Kehidupan: Jurnal Koneksi di Kaki Slamet Hari ini saya mencatat sebuah pengalaman yang, dalam keterasingannya, sungguh memperkaya pemahaman saya tentang realitas materil. Perjalanan saya ke kaki Gunung Slamet , khususnya ke kawasan Telaga Sunyi , telah menghadirkan lebih dari sekadar ketenangan visual. Telaga itu, sebuah permata di Purwokerto, memang menawarkan air yang dingin, jernih, dan memulihkan. Sebuah rekomendasi yang patut disebarluaskan. Namun, perhatian saya tertuju pada sebuah anomali murni di dekat sana: sebuah sumber mata air yang benar-benar memancar dari sela-sela batuan yang kian padat. Saya telah menetapkan nama personal untuk sumber sakral ini: Patanjala , sebuah penghormatan terhadap kemurnian dan sumber daya kosmiknya. Adalah kebiasaan kami untuk senantiasa meluangkan waktu sejenak di sana, memanjatkan doa hening demi keberlangsungan dan kemurnian air yang tak ternilai ini. Di tengah ritual meditatif itulah, peristiwa yang tak terduga terjadi. Dar...

Malaikat Sitael : Bisikan Angin Penenang

  Malaikat Sitael : Bisikan Angin Penenang Malam telah berlalu, meninggalkan kekacauan di pagi Jumat, 5 September 2025 . Hujan badai semalam ternyata meninggalkan jejak; atap rumahku bocor. Air menetes tak henti, menciptakan genangan di lantai.  Awalnya, rasa marah merayapi. Aku menyalahkan diri karena dulu tak teliti memilih lokasi rumah. Tetapi, nasi telah menjadi bubur. Kini, hanya rencana memanggil tukang yang bisa kulakukan. Aku duduk termangu di ruang tamu, menatap tetesan air yang jatuh, mencoba mencari pelajaran di balik kebocoran ini. Di tengah perenungan itu, saat hatiku terasa sedikit tegang dan kalut, sebuah sensasi lembut datang.  Tiba-tiba, terasa hembusan angin semilir yang anehnya hanya berputar di sekitarku, dingin namun menenangkan. Bersamaan dengan hembusan itu, hatiku yang keruh mendadak menjadi sejuk dan tenang . Di hadapanku, hadir sebuah wujud cahaya. Itulah Malaikat Sta’el , atau lebih dikenal sebagai Sitael . Beliau datang dari divisi yang sama...