Skip to main content

Hijau Yang Tidak Sepenuhnya Merdeka

 


Malam ini, aku duduk di depan laptop dengan kopi yang sudah dingin di sisi kanan. Layar ini menyorotkan cahaya biru ke wajahku, seakan membekukan setiap kata yang ingin kutulis. Data dari Raddeya kawan lamaku yang baru kembali dari luar negeri masih terbuka lebar. Kami bertemu kemarin di rumahnya di Karawang, dan entah kenapa, obrolan itu terus mengendap di kepalaku.

Aku menulis di sini untuk menenangkan dada. Tentang energi terbarukan yang selama ini kita puja sebagai jalan keluar. Katanya: ini tanda kita makin sayang pada bumi. Katanya: ini masa depan yang bersih. Tapi, benar kah? Aku jadi berpikir, energi apa pun, pada akhirnya, selalu bergantung pada cara kita memakainya... dan siapa yang menguasainya.

Kalau suatu hari kita berhasil meninggalkan energi fosil, lalu beralih ke air, bukankah itu kelihatan seperti kabar baik? Tapi bayangkan jika sumber air itu dimiliki segelintir kapitalis yang sama. Apa bedanya? Kita hanya memindahkan ranah kapitalisme dari satu ladang ke ladang lain. Hijau, tapi tetap dibelenggu.

Raddeya membuka mataku lebih lebar. Katanya, kelompok global hari ini sedang merajut “jebakan baru” budak ekonomi dalam kemasan segar. Nama yang sering muncul: Lynn Forester de Rothschild. Agenda mereka kini merangkul World Economic Forum, PBB, IMF, dijahit rapi dalam program bernama ESG (Environmental, Social, Governance). Kata Raddeya, ESG ini semacam “skor kredit sosial” tapi untuk perusahaan. Skor tinggi berarti akses modal dan pinjaman lebih mudah.

Awalnya, ESG ini mereka jual dengan wajah ramah: pajak karbon, teknologi hijau. Tapi pada 2016, ESG mulai merambah ke hal-hal lain, feminisme, LGBTQ, ideologi sosial. Semua dijadikan alat ukur kepatuhan. Trump sempat menolak lantang, tapi arus besar ini tidak mudah ditahan.

Kini mereka tak lagi vokal di forum-forum besar yang terang. Mereka memilih ruang-ruang yang lebih teduh, seperti B20 di India kemarin. Di sana mereka memuji UU “Inflation Reduction Act” Biden sebagai contoh terbaik insentif iklim. Tapi Raddeya bilang, itu cuma topeng. Uang rakyat dialihkan ke perusahaan-perusahaan yang patuh pada ESG. Hijau hanyalah dalih.

Aku menatap layar, membaca ulang catatan: CIC (Council of Inclusive Capitalism), akan membuat aturan global, memaksa perusahaan ikut agenda mereka. Perusahaan yang sukarela pakai teknologi hijau yang kurang efisien akan diguyur dana. Tujuan akhirnya? “Penjara ekonomi” dengan cat dinding baru. Dulu mereka menyebut minyak bumi sebagai “black gold”. Kini mereka menyebut energi terbarukan sebagai “green dollar”.

Kepingan-kepingan puzzle ini menggetarkan hatiku. Agenda nasional kita pun sekarang adalah percepatan energi terbarukan. Lawan presiden ke-8 bukan hanya sembilan naga yang menguasai lahan-lahan konsesi, tapi juga bayang-bayang agenda global.

Aku menulis ini sambil mengingat kata-kata Raddeya: “Jika kita tak lebih dulu menguasai, kita akan terkunci. Kita akan menjadi budak ekonomi selamanya.

Aku memandang jendela. Malam ini langit seperti halaman kosong, menunggu puzzle lain ditulis. Di dalam diriku, aku berjanji: hijau yang kuimpikan bukan hijau yang membelenggu. Semoga catatan ini bukan sekadar catatan, tapi doa dan panduan agar negeri ini selamat dari penjara yang disulap jadi taman.

Menuliskannya pada 30 September 2025

Labrador Rider.




Comments

Popular posts from this blog

Kronik Air Kehidupan: Jurnal Koneksi di Kaki Slamet

  Kronik Air Kehidupan: Jurnal Koneksi di Kaki Slamet Hari ini saya mencatat sebuah pengalaman yang, dalam keterasingannya, sungguh memperkaya pemahaman saya tentang realitas materil. Perjalanan saya ke kaki Gunung Slamet , khususnya ke kawasan Telaga Sunyi , telah menghadirkan lebih dari sekadar ketenangan visual. Telaga itu, sebuah permata di Purwokerto, memang menawarkan air yang dingin, jernih, dan memulihkan. Sebuah rekomendasi yang patut disebarluaskan. Namun, perhatian saya tertuju pada sebuah anomali murni di dekat sana: sebuah sumber mata air yang benar-benar memancar dari sela-sela batuan yang kian padat. Saya telah menetapkan nama personal untuk sumber sakral ini: Patanjala , sebuah penghormatan terhadap kemurnian dan sumber daya kosmiknya. Adalah kebiasaan kami untuk senantiasa meluangkan waktu sejenak di sana, memanjatkan doa hening demi keberlangsungan dan kemurnian air yang tak ternilai ini. Di tengah ritual meditatif itulah, peristiwa yang tak terduga terjadi. Dar...

Malaikat Sitael : Bisikan Angin Penenang

  Malaikat Sitael : Bisikan Angin Penenang Malam telah berlalu, meninggalkan kekacauan di pagi Jumat, 5 September 2025 . Hujan badai semalam ternyata meninggalkan jejak; atap rumahku bocor. Air menetes tak henti, menciptakan genangan di lantai.  Awalnya, rasa marah merayapi. Aku menyalahkan diri karena dulu tak teliti memilih lokasi rumah. Tetapi, nasi telah menjadi bubur. Kini, hanya rencana memanggil tukang yang bisa kulakukan. Aku duduk termangu di ruang tamu, menatap tetesan air yang jatuh, mencoba mencari pelajaran di balik kebocoran ini. Di tengah perenungan itu, saat hatiku terasa sedikit tegang dan kalut, sebuah sensasi lembut datang.  Tiba-tiba, terasa hembusan angin semilir yang anehnya hanya berputar di sekitarku, dingin namun menenangkan. Bersamaan dengan hembusan itu, hatiku yang keruh mendadak menjadi sejuk dan tenang . Di hadapanku, hadir sebuah wujud cahaya. Itulah Malaikat Sta’el , atau lebih dikenal sebagai Sitael . Beliau datang dari divisi yang sama...