Malaikat Zaphkiel : Jawaban dari Langit Pagi
Pagi Sabtu, tanggal 6 September 2025, udara masih dingin saat aku terbangun. Setelah menuntaskan tahajud dan merangkai dzikir, ada rasa lapang yang mendesakku. Aku memutuskan untuk membuka lebar semua jendela dan pintu. Bukan sekadar mencari udara segar, tapi seolah ingin bertukar napas dengan semesta yang baru bangun.
Aku duduk di sofa ruang tamu, menikmati keheningan yang ditemani secangkir Nescafe tanpa gula. Sebagai teman setia, sebuah lagu instrumental mengalun: "Snowfall" dari Oneheart & Raidenshi. Ah, musik itu. Jika kau sedang membaca ini, bayangkanlah ia menjadi latar sunyi yang indah. Ada sihir dalam setiap harmoni, menarik benang-benang memori dan kerisauan. Aku biarkan nadanya meresap, mengumpulkan semua kegelisahan yang membebani, lalu kulepaskan perlahan, memancarkannya ke angkasa, seperti sinyal tak terlihat.
Saat itulah, kilatan cahaya tiba-tiba menyambar di luar. Bukan kilat petir dari mendung, melainkan cahaya putih yang begitu terang, berpendar hingga menyamarkan wujud di baliknya. Perlahan, sesosok Malaikat berdiri di sana. Sayap putihnya nyaris tak terlihat saking terangnya, diselimuti jubah biru tua yang anggun dan elegan.
Beliau memberi salam. Itulah Malaikat Agung Tzaphkiel.
Malaikat itu seolah menangkap isyarat hati yang baru saja kulepaskan. Sorot matanya teduh saat ia berujar, menjawab kerisauanku yang tak terucap:
“Hai sahabatku,” sapa beliau dengan suara yang bergetar lembut, “Aku tahu apa yang merisaukanmu. Banyak manusia kini sedang terperangkap dalam pencarian pengakuan spiritual. Itu adalah fase, langkah yang harus mereka lalui setelah terlepas dari belenggu dogma agama yang kaku.”
“Sesungguhnya,” lanjutnya, “spiritualitas adalah perjalanan pribadi setiap insan menuju pencerahan. Namun, sebagian dari mereka justru tersesat dalam lingkaran validasi, alih-alih berjalan pelan, menikmati proses belajar. Mereka terlalu cepat mencari jawaban.”
Malaikat Tzaphkiel tersenyum. “Ketahuilah, jawaban adalah kepastian. Ia akan hadir saat engkau mencapai titik pencerahan diri yang sesungguhnya. Sebab, jawaban itu sejatinya ada di dalam dirimu sendiri. Tuhan selalu bersamamu, bahkan lebih dekat dari urat nadi, sepanjang jalan yang kau tempuh menuju cahaya pencerahan itu.”
Sebagai tambahan, bagi kawan Muslim, ingatlah bahwa Shalat Tahajud dan dzikir Al-Ma’tsurat adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Terutama sekitar pukul 03.00 WIB dan 15.00 WIB, saat para malaikat sedang melakukan pergantian tugas. Jangan lupa untuk menyapa mereka dalam doamu.
Catatan ini dalah migrasi data yang saya tulis pada tanggal 06 September 2025.
Rimpang.

Comments
Post a Comment